Minggu, 18 Mei 2008

Budaya dan Tata Kerja

Budaya dan tata kerja merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipsahkan dalam penerapan suatu sistem manajemen. Budaya dapat saja terbentuk dari tata kerja, dan sebaliknya tata kerja dapat membentuk suatu budaya. Dialektikanya sama dengan mencari asal muasal ayam dan telur.

Dalam suatu organisasi, baik bisnis, sosial dan pemerintahan, seringkali para pihak dalam organisasi terjerumus dalam budaya dan tata kerja yang terpolarisasi secara turun temurun yang akhirnya mengakibatkan pemborosan atau output yang tidak berkemanfaatan.

Budaya dan tata kerja sangat menentukan keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuannya. Oleh karena itu, hendaklah tujuan dari organisasi itulah yang membentuk budaya dan tata kerja.

Penyatuan persepsi mengenai tujuan organisasi menjadi prioritas pertama yang harus disatukan. Tanpa kesatuan persepsi, maka komponen organisasi akan berjalan dengan serampangan. Bersyukurlah jika ada invisble hand yang dapat menjadikan organisasi tampak luar begitu indah, damun pondasinya kropos. Hal ini pada umumnya terjadi pada BUMN/ BUMD, Pemerintah Daerah dan Lembaga Swadaya Masyarakat, yang tidak memiliki kesatuan persepsi dalam mencapai tujuan.

Sebagai contoh di BUMN/ BUMD, point of social effect menjadi priorotas oleh kelompok tertentu, dimana kelempok ini menganggap bahwa BUMN/ BUMD tidak perlu dilihat sebagai lembaga bisnis murni, melainkan sebagai social effect, yang dapat memutar roda sosial, dengan penyerapan tenaga kerja, produksi dan penjualan. Tidak mengherankan semenjak UU Anti Monopoli diundangkan, beberapa BUMN/ BUMD kelabakan, dan nyaris tak berdaya untuk bersaing.

Untuk menyatukan persepsi organisasi maka, proses awal dimulai dari perumusan tujuan itu sendiri. Setelah itu, proses pengorganisasian disesuaikan dengan tujuan tersebut. Kemudian dilakukan seleksi.

Jika seluruh proses berjalan dalam suatu kerangka yang rapi dan terstruktur, maka organisasi akan dengan cepat dan mudah menggapai tujuannya.

Wassalam.

Tidak ada komentar: